Di sebuah kota yang dipenuhi hiruk pikuk kehidupan, terhampar sebuah kafe kecil bernama "Melodi". Di balik etalase kaca yang berembun, tersimpan sebuah piano tua yang setia menemani alunan lagu-lagu yang dimainkan oleh seorang pemuda bernama Rian. Rian, dengan jari-jari lentiknya, menari di atas tuts piano, menciptakan melodi-melodi yang menyentuh hati. Setiap lagu yang dimainkannya adalah sebuah cerita, sebuah perjalanan emosional yang dibagikan kepada para pengunjung kafe. Suatu sore, seorang gadis bernama Anya memasuki kafe. Matanya yang sayu tertuju pada Rian yang sedang memainkan lagu "Bidadari" karya Dewa 19. Melodi itu seolah menyentuh luka di hatinya, mengingatkannya pada masa lalu yang pahit. Anya mendekat, duduk di meja dekat piano. Rian, yang peka terhadap aura sedih yang terpancar dari Anya, berhenti memainkan lagu. Ia menatap Anya dengan tatapan lembut, seakan membaca isi hatinya. "Maaf, lagu itu mengingatkanmu pada sesuatu?" tanya Rian pelan. Anya mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Lagu itu mengingatkan saya pada mantan pacar saya. Kami putus beberapa bulan yang lalu, dan saya masih belum bisa melupakannya." Rian tersenyum simpati. "Kau tahu, setiap lagu punya cerita tersendiri. Terkadang, lagu bisa menjadi pengantar untuk melupakan masa lalu." Anya terdiam, merenungkan ucapan Rian. Ia kemudian meminta Rian untuk memainkan lagu "Aku dan Dirimu" karya Sheila On 7. Lagu itu, menurutnya, mewakili perasaan yang sedang ia rasakan saa